Cara Menentukan Masuknya Bulan Ramadhan (Materi #6)

Cara Menentukan Masuknya Bulan Ramadhan (Materi #6)

Cara Menentukan Masuknya Bulan Ramadhan (Materi #6)
Oleh : Ustadz Sirajul Yani, M.H.I


بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاه والسلام على رسول الله وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين وبعد، إخوتي في الله عزني الله وإياكم
Kita lanjutkan kembali Kajian Fiqih Puasa Ramadhan, pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang cara menetapkan masuknya Bulan Ramadhan dan keluarnya Bulan Ramadhan. Adapun cara menentukan masuknya bulan Ramadhan maka ada 2 cara yang syar'i:

1. Cara Pertama dengan melihat Hilal, yaitu berusaha melihat Hilal dimalam ke 30 bulan Sya'ban tanggal 29 sorenya menjelang maghribnya kita berusaha melihat Hilal, ini sebagaimana Hadist Abu Hurairah radhiyallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallahu'alai wasallam pernah bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

"Berpuasalah kalian dengan melihat Hilal dan berbukalah dengan melihatnya pula, apabila terhalang melihat hilal oleh awan dan selainnya, maka sempurnakanlah bilangan jumlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari".

Dan dari hadist yg lain, hadist 'Aisyah Radhiyallahu'anha bahwasanya Rasulullah pernah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ

"Rasulullah memperhatikan bulan Sya'ban tidak seperti memperhatikan yang selainnya, beliau berpuasa karena melihat Ramadhan, apabila terhalang untuk melihat Hilal kemudian beliau menggenapkannya menjadi 30 hari kemudian beliau berpuasa"

Dan juga sebagaimana yang di lakukan oleh para sahabat yang lain bahwasanya mereka menetapkan bulan Ramadhan dengan melihat Hilal, inilah yang dilakukan oleh para sahabat radhiallahu'anhum. Ini adalah prakteknya para sahabat radhiallahu'anhum. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Umar radhiallahu'anhu, beliau berkata:

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

"Orang-orang berusaha untuk melihat Hilal, kemudian aku beritahukan kepada Rosulullah Shollahu 'Alaihi Wasallam bahwa aku telah melihatnya dan kemudian beliau bepuasa dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa". (HR Abu Dawud).

Dan ditetapkan masuknya bulan Ramadhan cukup dengan 1 saksi laki-laki yang adil, dan ini pendapat Madzhab Syafi'i, Hanbali dan yang dipilih oleh syaikh Binbaz, Syaikh Utsaimin yang menguatkan hal ini atsar dari Ibnu Umar.

Sesorang yang telah melihat hilal dan disaksikan atau persaksiannya tidak di terima oleh pemerintah maka para ulama berbeda pendapat disini, apakah dia wajib berpuasa atau tidak?

a. Pendapat pertama, dia berpuasa karena dia telah melihat hilal, dia berpuasa dengan sendirinya sebagaimana kesepakatan ulama madzhab. Dan ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ..... [البقرة: 185]

"Dan siapa yang menyaksikan bulan Ramadhan (masuk bulan Ramadhan) maka hendaklah dia berpuasa".

Dan sebagimana hadist Abu Hurairah:

...إِذَا رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَصُومُوا

"Jika kalian telah melihat hilal maka berpuasalah"

Sebagaimana dalam ayat dan hadist diatas seseorang yang telah melihat hilal dengan sendirinya maka wajib baginya untuk berpuasa karena keumuman ayat dan hadist ini.

b. Pendapat yang kedua, dia berpuasa bersama kebanyakan manusia dia mengikuti pemerintah, kapan pemerintah menetapkan awal Ramadhan dia mengikutinya.

Dan ini sebagaimana pendapat sebagian ulama salaf Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah berdasarkan Hadist Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

الصَّومُ يَومَ تَصومونَ، والفِطرُ يومَ تُفطِرونَ، والأضحى يومَ تُضَحُّونَ

"Kau berpuasa itu pada hari manusia berpuasa dan kau berbuka atau berhari raya pada hari manusia berbuka atau berhari raya, dan engkau berhari raya Idul Adha pada hari manusia berhari raya Idul Adha". (HR. Tirmidzi dan Daruqudni).

Oleh karena itu hadist diatas menunjukkan bahwa standart atau patokan dalam memulai puasa atau mengakhirinya yaitu dengan mengikuti apa yang ditetapkan oleh pemerintah kaum muslimin.

2. Cara Kedua dalam menetapkan awal masuk bulan Ramadhan adalah menyempurnakan bilangan bulan Sya'ban 30 hari. Menyempurnakan bilangan bulan Sya'ban menjadi 30 hari, jika hilal belum terlihat malam ke-30 bulan Sya'ban baik itu awannya cerah atau ada awan hitam, dan ini yang di sepakati ulama madzhab yang 4, sebagaimana Hadist Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu:

صُومُوا لِرُؤيَتِه، وأفطِرُوا لِرُؤيَتِه؛ فإنْ غُبِّيَ عليكم، فأكمِلُوا عِدَّةَ شَعبانَ ثلاثينَ

"Berpuasalah kalian dengan melihat hilal dan berbukalah dengan melihat hilal jika terhalang oleh kalian untuk melihat hilal maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari di bulan Sya'ban menjadi 30 hari". (HR Bukhari)

Maka hari ke-30 bulan Sya'ban dinamakan Yaumus Syak hari keraguan jika tidak terlihat hilal dimalamnya tgl 29 Sya'ban, malam 30 tidak terlihat hilal maka dinamakan tanggal 30 di bulan Sya'ban dinamakan Yaumus Syak hari keraguan, tidak boleh seseorang berpuasa pada hari tersebut walaupun niatnya untuk kehati-hatian. Ini sebagaimana hadist dari Suhail bin Zufar dia menceritakan tentang Ammar bin Yasir dia mengatakan:

كُنَّا عِنْدَ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ فَأُتِيَ بِشَاةٍ مَصْلِيَّةٍ فَقَالَ كُلُوا فَتَنَحَّى بَعْضُ الْقَوْمِ فَقَالَ إِنِّي صَائِمٌ فَقَالَ عَمَّارٌ مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يَشُكُّ فِيهِ النَّاسُ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Ketika kami bersama Ammar bin Yasir lalu dihidangkan kambing masliyyah (yang telah dibakar) kemudian dia mengatakan makanlah, maka sebagian kaum beranjak mundur sambil berkata saya sedang berpuasa, Ammar bin Yasir berkata: "Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak hari keraguan yaitu pada tanggal 30 Sya'ban atau awal Ramadhan maka dia telah durhaka kepada Abal Qosim yaitu Rosulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam" (HR. Tirmidzi) Hadist shahih.

Dan sebagian kaum muslimin ada yang menentukan awal Ramadhan dengan hisab dan para ulama menjelaskan bahwasanya tidak boleh menggunkan hisab dalam menentukan awal Ramadhan dan telah datang ijama' padanya. Sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Jashash, Ibnu Rusyd, Al-Imam al Qurtubi Ibnu Taimiyah, dan dikuatkan oleh Syaikh bin Baz rahimahullah, Beliau mengatakan:

"من خالف في ذلك من المعاصرين، فمسبوق بإجماع من قبله وقوله مردود، لأنه لا كلام لأحد مع سنة رسول الله  ولا مع إجماع السلف"

"Siapa yang menyelisihi dalam hal tersebut dari kalangan ulama-ulama sekarang, maka telah ada ijmak sebelum mereka. Ijma' bahwasanya penentuan awal Ramadhan dengan melihat hilal bukan dengan hisab, kata beliau pendapat yang menyelisihi ijmak para ulama terdahulu tertolak. Karena tidak boleh di terima perkataan dari siapapun yang bertentangan dengan Sunnah Nabi shallallahu Alaihi Wasallam dan juga perkara yang bertentangan dengan ijma' ulama terdahulu tidak boleh diterima."

Dan dalil tidak bolehnya menggunakan hisab dalam penentuan awal Ramadhan sebagaimana hadist abu Hurairah tadi, dan juga hadis Abdillah ibnu Umar Rasulallahu shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda :

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

"Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka hingga kalian melihat hilal, jika kalian terhalang oleh awan maka kalian sempurnakan bilangan Sya'ban menjadi 30".

Hadis tersebut dapat disimpulkan bahwasannya Rasulullah allallahu Alaihi Wasallam kaitkan hukum mulai puasa Ramadhan dengan Melihat hilal, dan ketika hilal tidak terlihat karena sebab tertentu Nabi memerintahkan kepada kita untuk menyempurnakan bulan Sya'ban, bukan merujuk ke Ilmu falaq atau ilmu hisab dan inilah praktek pada zaman Nabi shallallahu Alaihi Wasallam dan juga zaman sahabat radhiyallahu'anhum.

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post