Apa Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan Para Ulama ?

Apa Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan Para Ulama

Apa Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan Para Ulama ?
Oleh: Syaikh Muhammad Bin Sholeh Al Utsaimin -rahimahullah-

Jika seorang memiliki ilmu, yang dengannya ia bisa membandingkan antara perkataan para ulama dengan dalil-dalil nya, dan juga bisa mentarjih antara keduanya, dan mengetahui mana yang lebih mendekati kebenaran atau yang paling rojih, maka wajib baginya melakukannya, karena Allah memerintahkan untuk mengembalikan masalah-masalah yang diperselisihkan kepada Al Qur'an dan As Sunnah, Allah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

"Jika kalian berselisih pada suatu masalah maka kembalikan masalah tersebut kepada Allah dan Rasulnya, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir" (QS An-Nisa: 59), maka dikembalikan masalah-masalah yang diperselisihkan tersebut kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan mengambil pendapat yang paling kuat padanya, karena kewajiban dia mengikuti dalil, adapun perkataan ulama hanya membantu dalam memahami dalil.

Adapun jika seorang muslim tidak memiliki ilmu, dia tidak bisa mentarjih (memilih pendapat yang paling kuat) dari pendapat-pendapat para ulama, maka wajib baginya bertanya kepada Ahli Ilmu, yang diakui keilmuannya dan agamanya, lalu dia mengambil apa yang difatwakan, Allah Shubhanahu Wata'ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah kalian kepada ahlinya, jika kalian tidak mengetahuinya" (QS Al Anbiya: 43), dan para ulama menyatakan bahwa madzhab orang awwam adalah madzhab ulama yang memberikan fatwa kepadanya.

Jika pendapat mereka berbeda-beda, maka hendaklah ia mengikuti ulama yang lebih terpercaya atau memiliki kredibilitas dan juga yang lebih berilmu, dan ini sama halnya dengan seseorang, jika ia tertimpa penyakit, -semoga Allah menjaga dan melindungi kita semuanya-, dia akan mencari dokter yang terpercaya dan yang lebih paham, sehingga dia kesana, karena dokter tersebut lebih paham dan lebih mengetahui dari yang lain, maka perkara agama harus lebih utama dalam berhati-hati dari pada perkara dunia.

Dan tidak boleh seorang muslim mengambil perkataan para ulama yang selaras dengan hawa nafsunya, jika menyelisihi dalil, dan juga tidak boleh dia meminta fatwa kepada seseorang yang suka bermudah mudahan dalam berfatwa.

Akan tetapi hendaklah dia berhati-hati dalam hal agamanya, maka hendaklah ia bertanya kepada ahli ilmu, yang mumpuni dalam ilmunya dan lebih takut kepada Allah.

Dan tidaklah seorang ulama kecuali memiliki pendapat dalam beberapa masalah ijtihadiyyah, dan terkadang tidak sesuai dengan Al Haq (kebenaran), akan tetapi dalam hal ini mereka diberi udzur dan mendapatkan pahala atas ijtihad mereka, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

"Jika seorang hakim berhukum dan berijtihad, kemudian benar, maka baginya 2 pahala, dan jika ia berhukum dan berijtihad kemudian salah, maka baginya 1 pahala" (HR Bukhari: 7352).

Maka tidak boleh seorang muslim, mengikuti ketergelinciran para ulama dan kesalahan mereka, jika ia melakukannya, maka dia telah mengumpulkan semua keburukan.

Dan mencari-cari pendapat yang paling mudah/ringan dari pendapat para ulama tanpa mengetahui dalilnya, ditakutkan dia terjatuh dalam sifat kemunafikan (Ighotsatul Lahfan: 1/228).

Sumber:

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post