Hukum Seputar Puasa 6 Hari Bulan Syawwal

Belajar Syariah Online

Hukum Seputar Puasa 6 Hari Bulan Syawwal

1. Hukumnya
Puasa 6 hari di bulan syawwal hukumnya sunnah, sebagaimana hadist dari Abu Ayyub radhiallahu’anhu, Beliau berkata:
أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Siapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa." (HR Muslim) Sebagaimana pendapat jumhur ulama, al malikiyyah, asy syafiyyah, dan al hanabilah, Berkata Ibnu Qudamah:
وَإِتْبَاعُ صَوْمِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ مُسْتَحَبٌّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ
“ dan mengikuti puasa enam hari di bulan syawwal hukumnya sunnah menurut asy syafiiyah dan al hanabilah” (Al Mughni, 3/172).

2. Keutamaannya:
Nabi ` telah menjelaskan bahwasanya barangsiapa yang puasa 6 hari di bulan syawwal, sama seperti ia berpuasa satu tahun penuh, sebagaimana hadist yang telah disebutkan di atas, dan Nabi menjelaskan lagi dalam hadist yang lain, beliau bersabda:
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ {مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا} "
"Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seakan ia berpuasa setahun secara sempurna. Dan barangsiapa berbuat satu kebaikan maka ia akan mendapat sepuluh pahala yang semisal. " (HR Ibnu Majah).

3. Faidah berpuasa 6 hari bulan syawwal:
a. berpuasa 6 hari di bulan syawwal, setelah ramadhan, akan mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh
b. bahwasanya puasa syawwal dan sya’ban seperti halnya dengan sholat-sholat sunnah rawatib sebelum atau setelah sholat-sholat fardhu, yang mana puasa ini menyempurnakan apa-apa yang kurang dari puasa ramadhan, karena yang fardhu disempurnakan dengan yang sunnah-sunnah.
c. bahwasanya membiasakan diri berpuasa setelah ramadhan, tanda diterimanya puasa ramdhannya, karena jika Allah menerima amalan seorang hamba, maka Allah berikan dia taufiq mengamalkan amal sholeh setelahnya, sebagaimana perkataan sebagian ulama:
ثواب الحسنة الحسنة بعدها، فمن عمل حسنة ثم أتبعها بحسنة بعدها، كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى، كما أن من عمل حسنة ثم أتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة وعدم قبولها.
“Ganjaran suatu kebaikan yaitu kebaikan setelahnya, barangsiapa yang mengerjakan kebaikan kemudian dia mengikutinya dengan kebaikan setelahnya, maka itu pertanda diterimanya kebaikan yang pertama, begitu juga jika seseorang melakukan kebaikan kemudian dia mengikutinya dengan keburukan, maka itu pertanda ditolaknya kebaikan tersebut" (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 388).
d. bahwasanya puasa ramadhan menghapus dosa-dosa yang telah lalu, dan tidak ada nikmat yang terbesar dari dihapusnya dosa-dosanya, dan Nabi ` sholat malam sampai kaki beliau bengkak, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Mughirah beliau berkata:
قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَرَّمَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri shalat hingga kedua telapak kakinya bengkak-bengkak. Maka dikatakan kepada beliau; 'Bukankah Allah telah mengampuni anda terhadap dosa-dosa anda yang lalu maupun yang akan datang? Beliau menjawab: "Tidak bolehkah saya menjadi hamba yang bersyukur." (HR Bukhari). Dan Allah telah memrintahkan hamba2nya untuk selalu bersyukur atas nikmatnya, diantaranya nikmat sempurnanya ibadah puasa ramadhan, Allah berfirman:
وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”, (QS Al Baqarah: 185).
Dan di antara bentuk syukur seorang hamba kepada Allah, Allah memberikan taufiq kepadanya berpuasa di bulan ramadhan dan menolongnya dalam menjalankannya dan bentuk syukur setelah Allah memberikan kepadanya ampunan, dia berpuasa setelahnya yaitu puasa 6 hari bulan syawwal.

4. Caranya:
Para ulama ada 3 pendapat:
a. disunnahkan dikerjakan berurutan dari awal bulan, dan ini sebagaimana pendapat asy syafii dan ibnul mubarak, dalilnya hadist Abu hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah ` bersabda:
مَن صام ستةَ أيام بعد الفطر متتابعة، فكأنَّما صام السنة كلها
“Barangsiapa yang berpuasa enam hari setelah iedul fitri dengan berurutan, maka seakan akan dia telah berpuasa satu tahun penuh” (HR Thabrani) Berkata imam nawawy dalam al majmu’:
وَيُسْتَحَبُّ ان يصومها متتايعة فِي أَوَّلِ شَوَّالٍ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عن أول شَوَّالٍ جَازَ وَكَانَ فَاعِلًا لِأَصْلِ هَذِهِ السُّنَّةِ لِعُمُومِ الْحَدِيثِ وَإِطْلَاقِهِ
“Dan disunnahkan seseorang berpuasa 6 hari bulan syawwal dengan berurutan di awal-awal bulan, dan jika ia melakukannya terpisah-pisah dan mengakhirkannya boleh, maka dia telah melakukan sunnah ini, karena keumuman hadist tentangnya” (Al Majmu’, 6/379).
b. tidak berpuasa setelah hari ied, karena hari tersebut masih hari2 makan dan minum, akan tetapi dilakukan 3 hari sebelum hari2 baidh atau setelahnya, dan ini pendapat muammar, abdurrazzaq dan riwayat dari atho.
c. bahwasanya tidak ada perbedaan antara dilakukan dengan berurutan atau terpisah-pisah, ini sebagaimana pendapat waqi dan ahmad, dan ini pendapat yang benar, dan sebagian ulama mensunnahkan berurutan, sebagaimana pendapat Ibnul mubarak dan imam syafii dan ishaq
kesimpulannya: seseorang akan mendapatkan keutamaan puasa 6 hari bulan syawwal, baik itu dia berpuasa dengan berurutan atau terpisah-pisah, sebagian di awal bulan, sebagiannya lagi dipertengah dan yang lainnya di akhir, dan lebih utama disegerakan dalam menyelesaikannya, sebagai bentuk bersegera dalam kebaikan.

5. Apakah disyaratkan harus mengqodho hutang puasa ramdhan terlebih dahulu?
Para ulama memiliki dua pendapat:
Pendapat pertama: bahwasanya keutamaan puasa 6 hari bulan syawwal tidak akan didapatkan kecuali setelah membayar hutang puasa ramadhan terlebih dahulu, sebagaimana hadist Abu Ayyub yang telah kita sebutkan di atas; disebutkan: "Siapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa." (HR Muslim). 
Dan terwujudnya sifat yang disebutkan dalam hadist di atas; telah berpuasa ramadhan, jika telah memqodho puasa-puasa yang telah ditinggalkan, berkata Al haitsami rahimahullah:
لأَنَّها مع صيام رمضان؛ أي: جميعه، وإلا لَم يحصل الفضل الآتي، وإن أفطر لعذر
“Karena puasa 6 hari bulan syawwal dengan puasa ramadhan, yaitu maksudnya telah menunaikannya semuanya, kalau tidak, maka dia tidak mendapatkan keutamaannya” (Tuhfatul Muhtaj, 3/457). 
Dan pendapat ini yang dipilih oleh kebanyakan ulama-ulama sekarang, syaikh bin baz, syaikh utsaimin rahimahumallah.
Pendapat kedua: bahwasanya keutamaanya bisa didapatkan, walaupun dia belum mengqodho puasa-puasa yang telah ditinggalkan, karena dia telah melalui puasa ramadhan secara hukum, dengan dalil hadist Nabi `:
ثم أتبعه ستًّا من شوال
“Kemudian dia mengikutinya dengan berpuasa 6 hari di bulan syawwal”.
Para ulama menyebutkan, bahwa pengikutan setelah ramadhan dengan puasa 6 hari bulan syawwal mencakup juga pengikutan dari sisi bilangan dan hitungan, karena dia telah menyempurnakan puasa ramadhan dari sisi bilangan dan hitungan, maka boleh setelah itu dia mengikutinya dengan berpuasa 6 hari bulan syawwal. Dan pendapat ini sebagaimana yang dipilih oleh jumhur ulama, al malikiyyah, alhanafiyyah dan al hanabilah, dalilnya sebagaimana hadist Abu salamah, bahwasanya beliau mendengar Aisyah istri Nabi ` berkata:
إِنْ كَانَ لَيَكُونُ عَلَيَّ الصِّيَامُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَصُومُهُ حَتَّى يَأْتِيَ شَعْبَانُ
"Sungguh aku pernah punya tanggungan puasa Ramadan, dan aku tidak bisa berpuasa hingga datang bulan Sya'ban. (HR Imam Malik).
syaikhul islam ibnu taimiyyah menukil riwayat dari imam ahmad bolehnya hal tersebut, beliau berkata:
لأنَّ عائشة أخبرت أنها كانت تَقضي رمضان في شعبان، ويبعد أن لا تكون تطوَّعَتْ بيومٍ، مع أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصوم حتى يُقال: لا يفطر، ويُفطر حتى يُقال: لا يصوم، وكان يصوم يوم عرفة وعاشوراء، وكان يُكثر صوم الاثنين والخميس، وكان يصوم ثلاثة أيام مِن كل شهر، ولأنَّ القضاء مُؤقَّت فجاز التنفُّل قبلَ خُروج وقته
“Karena Aisyah mengabarkan, bahwasanya beliau mengqodho puasanya sampai bulan syaban, dan mustahil beliau terlewatkan dari puasa-puasa sunnah sebelumnya, dan Nabi selalu berpuasa, sampai dikatakan, beliau tidak pernah berbuka,dan kadang beliau berbuka dan dikatakan tidak pernah berpuasa, dan beliau selalu puasa arafah, Asyura, dan juga beliau memperbanyak puasa senin kamis, dan juga beliau berpuasa 3 hari dalam sebulan, karena mengqodho memiliki waktu/tempo, maka boleh melakukan puasa sunnah sebelum keluar dari waktu/tempo mengqodho puasa ramadhan” (Syarhul Umdah, 1/358).
Pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat kedua, karena keutamaan puasa 6 hari bulan syawwal tidak hanya kepada yang telah selesai atau bebas dari hutang puasa, dan Allah telah memberikan kelonggaran dalam waktu mengqodho puasanya, Allah berfirman:
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ﴾
“Maka diganti pada hari-hari yang lain, Allah menginginkan bagi kalian kemudahan dan Allah tidak menginginkan bagi kalian kesukaran, dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangan”. (QS Al Baqarah: 185). 
Dan juga sebagaimana atsar dari Aisyah, bahwasanya beliau mengqodho puasa ramadhan sampai bulan sya’ban, dan tidak mungkin beliau terlewatkan dari puasa-puasa sunnah. 
Dan keutamaan puasa 6 hari bulan syawwal dikhususkan pada bulan ini saja, kalau terluput bulan ini, maka terluput pula keutamaannya, Adapun jika ia memulainnya dengan membayar hutang puasanya terlebih dahulu, maka itu lebih utama.

Wallahu ta’ala a’lam bissawab.

Dikumpulkan oleh: Ustadz Sirajul Yani, M.H.I, hafidzohullah.

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post