Apa-Apa Yang Dibolehkan Bagi Yang Berpuasa 1 (Materi #26)

Materi ke 26: (Apa-apa yg dibolehkan bagi yang berpuasa 1)



Materi ke 26: (Apa-apa yg dibolehkan bagi yang berpuasa 1)
Ustadz Sirajul Yani, M.H.I

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاه والسلام على رسول الله وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين وبعد اخوتي في الله عزني الله واياكم

Saudara-saudaraku rahimani wa rahimakumullah, Pembahasan kali ini, kita akan membahas tentang apa-apa yang dibolehkan bagi orang yang berpuasa:

1. Dibolehkan bagi orang yang berpuasa untuk mengakhirkan mandi bersih atau mandi janabah bagi seseorang yang junub dan wanita yang bersih dari haidnya sampai terbit fajar sebagaimana hadits 'Aisyah Ummu Salamah Radhiyallahu 'anhuma, mereka berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

"Bahwasanya Rasulullah shalallahu alayhi wasallam pernah mendapatkan waktu fajar saat beliau sedang junub di rumah keluarga beliau kemudian beliau mandi dan berpuasa" (HR Bukhari)
Dalam masalah ini dinukil ijma' oleh dari para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul 'Arabi, Ibnu Qudamah dan Ibnu Hajar rahimahumullah, berkata Ibnu Qudamah rahimahullah :

الجنُب له أن يؤخِّرَ الغُسلَ حتى يُصبِحَ ثم يغتَسِل ويُتِم صَومَه في قولِ عامَّةِ أهل العلم؛ منهم علي وابن مسعود، وزيد وأبو الدرداء، وأبو ذر وابن عمر، وابن عباس وعائشة، وأم سلمة رَضِيَ اللهُ عنهم

"Orang yang junub boleh baginya adalah untuk mengakhirkan mandi sampai masuk waktu subuh kemudian dia mandi dan menyempurnakan puasanya. Ini sebagaimana pendapat kebanyakan para ahli ilmu diantara mereka adalah 'Ali Ibnu Mas'ud, Zaid, Abu Darda, Abudz Dzar, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, 'Aisyah, dan Ummu Salamah Radhiyallahu 'anhum."
Begitu juga wanita haid, boleh mengakhirkan mandi bersih nya sampai terbit fajar shadiq. Ini sebagaimana kesepakatan ulama madzhab yang empat diqiyaskan dengan orang yang junub.

2. Perkara yang kedua, yaitu dibolehkan bagi orang yang berpuasa berkemumur dan berintinsyaq atau memasukkan air ke dalam hidungnya. Dibolehkan bagi orang yang berpuasa berkemumur dan memasukkan air ke dalam hidung dengan catatan tidak berlebihan. Sebagaimana ijma' para ulama sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah.

3. Perkara yang ketiga, yaitu mandi untuk mendinginkan badan. Tidak mengapa seseorang yang berpuasa untuk mandi atau mengguyurkan air di atas kepalanya karena kepanasan atau rasa haus. Dan ini sebagaimana kesepakatan ulama madzhab yang empat, dan sebagaimana hadits 'Aisyah Radhiyallahu Anhu ia berkata :

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ ثُمَّ يُصْبِحُ صَائِمًا

"Sungguh Rasulullah shalallahu alayhi wasallam pernah di pagi hari junub dari jima' kemudian beliau mandi dan berpuasa di pagi hari itu juga" (HR Ahmad) . Dan juga sebagaimana riwayat yang lain, dari salah satu para sahabat :
لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنْ الْعَطَشِ أَوْ مِنْ الْحَرِّ

"Sungguh aku telah melihat Rasulullah shalallahu alayhi wasallam di suatu tempat beliau menuangkan air ke kepalanya karena haus atau panas sementara beliau sedang berpuasa" (HR Abu Daud).

4. Kemudian perkara yang keempat, yang dibolehkan bagi orang yang berpuasa mencicipi makanan ketika dibutuhkan. Dibolehkan bagi orang yang berpuasa mencicipi makanan ketika dibutuhkan dan ada maslahat padanya seperti agar ia mengetahui pas atau tidaknya kadar gula atau garam atau lainnya dari makanan atau minuman tersebut akan tetapi dengan syarat setelah itu dia harus membuang atau memuntahkannya kemudian setelah itu ia mencuci mulutnya. Dan ini sebagaimana pendapat jumhur ulama al-Hanafiyyah, asy-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah. Dalilnya hadist dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma beliau berkata :
لا بأسَ أن يتطَعَّمَ القِدْرَ، أو الشَّيءَ

"Tidak mengapa dia mencicipi makanan dari sebuah panci atau bejana atau sesuatu yang lain" Dan ini dikarenakan tidak sampainya makanan atau minuman ke dalam kerengkongannya sehingga semakna dengan berkemumur.

5. Kemudian perkara yang kelima, dibolehkan bagi orang yang berpuasa untuk mencium  dan mencumbui istrinya dan tidak sampai berhubungan suami istri dengan syarat dia bisa menahan dirinya. Ini sebagaimana pendapat jumhur ulama al-Hanafiyyah asy-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah. Dalilnya sebagaimana hadits'Aisyah Radhiyallahu Anha beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ

"Rasulullah shalallahu alayhi wasallam pernah mencium dan mencumbuku dengan mesra ketika ia sedang berpuasa tapi beliau memang orang yang paling bisa mengendalikan nafsunya diantara kalian" (HR Bukhari). 
Semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post