Pembatal-Pembatal Puasa 4 (Materi #23)

Pembatal-pembatal Puasa 4 (Muntah Dengan Sengaja, keluar Darah Haid dan Nifas, Gila, Pinsan, Murtad dan Berniat Untuk Berbuka) (Materi #23)



Pembatal-pembatal Puasa 4 (Muntah Dengan Sengaja, keluar Darah Haid dan Nifas, Gila, Pinsan, Murtad dan Berniat Untuk Berbuka) (Materi #23)
Oleh :Ustadz Sirajul Yani, M.H.I

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاه والسلام على رسول الله وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين وبعد اخوتي في الله عزني الله واياكم

Kita lanjutkan kembali pembatal-pembatal puasa.
Pembatal puasa yang keempat yaitu muntah dengan sengaja. Muntah dengan sengaja bisa membatalkan puasa seseorang dan wajib baginya mengqadha'nya dan tidak ada kaffarah atasnya, ini sebagaimana yang disepakati oleh ulama mazhab yang empat. Adapun dalilnya atsar dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhu, Beliau pernah berkata:

مَنْ اسْتَقَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ

"Barangsiapa muntah dengan sengaja saat ia berpuasa, maka dia harus mengganti puasanya. Dan barangsiapa tidak sengaja muntah, maka dia tidak wajib menggantinya." (HR Imam Malik di dalam Muwaththo).

Dan tidak ada dalil yang mengharuskannya membayar kaffarah. Jika dia muntah dengan tidak sengaja maka tidak batal puasanya, sebagaimana kesepakatan ulama mazhab yang empat dan dikatakan ijma' dalam hal ini, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Mundzir, Beliau berkata:

وأجمعوا على أنَّه لا شيءَ على الصَّائِم إذا ذرَعَه القَيءُ

Dan para ulama telah ijma' bahwasanya tidak mengapa atau tidak batal puasanya seorang yang tidak sengaja muntah. (Salam dalam kitabnya Al Ijma' halaman 49).

Pembatal berikutnya yaitu keluarnya darah haid dan nifas. Seorang wanita yang haid dan nifas di siang hari bulan ramadhan atau di penghujung harinya sebelum matahari terbenam beberapa saat, maka rusak atau batal puasanya dan wajib baginya mengqadha'nya. Dalilnya sebagaimana hadits Abu Sa'id Al Khudri, Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

... أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

"Apabila (seorang wanita) itu sedang mengalami haidh, maka dia tidak ada kewajiban shalat dan juga puasa” (HR Bukhari).

Dan juga riwayat dari mu'aadzah beliau pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiallahu 'anha kata beliau:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

"Aku bertanya kepada Aisyah seraya berkata: "Kenapa wanita yang haid dia mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' sholat? Maka 'Aisyah radhiallahu'anha berkata: "Apakah kamu dari golongan haruriyyah?, Aku menjawab: "Aku bukan haruriyyah, akan tetapi aku hanya bertanya, Aisyah berkata: kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha' sholat (HR Muslim).

Dan telah datang ijma' dalam hal ini sebagaimana yang di nukil oleh Ibnu Hazm , Ibnu Arrusyd, dan Imam Nawawi dan juga Ibnu Taimiyah rahimahullah, berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah:

ثبَت بالسُّنة واتِّفاقِ المُسلِمينَ أنَّ دمَ الحَيضِ يُنافي الصَّومَ، فلا تصومُ الحائِضُ، لكِنْ تَقضي الصِّيامَ

"Telah datang dalil dari Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan juga kesepakatan kaum muslimin bahwasanya darah haidh bisa membatalkan puasa, maka tidak boleh seorang yang lagi haid berpuasa, akan tetapi wajib baginya mengqadha' puasanya". Al-Imam AnNawawi pernah berkata dalam menjelaskan hadist riwayat dari Aisyah radhiyallahu'anha:

فنُؤمَرُ بقضاءِ الصَّومِ، ولا نؤمَرُ بقَضاءِ الصَّلاة) هذا الحُكمُ مُتَّفَقٌ عليه؛ أجمع المسلمونَ على أنَّ الحائِضَ والنُّفَساءَ لا تجِبُ عليهما الصَّلاةُ ولا الصَّومُ في الحالِ، وأجمعوا على أنَّه لا يجِبُ عليهما قضاءُ الصَّلاةِ، وأجمعوا على أنَّه يجِبُ عليهما قضاءُ الصَّومِ

"Kami dahulu diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha' sholat, hukum ini telah disepakati atasnya, dan kaum muslimin telah ijma' telah sepakat bahwasanya orang yang haid dan juga nifas tidak wajib bagi mereka untuk sholat dan juga puasa ketika dalam keadaan tersebut, dan para ulama dan kaum muslimin telah ijma' bahwasanya tidak wajib bagi keduanya untuk mengqadha' sholat wanita haid dan nifas tidak wajib untuk mengqadha' sholatnya, dan kaum muslimin telah ijma' bahwasanya wajib bagi keduanya untuk mengqadha' puasa." 

Dan apakah wajib menahan diri di sisa hari tersebut dikarenakan keluarnya darah haid dan nifas ? jawabannya dia tidak harus menahan diri di sisa harinya, ini sebagaimana madzhab jumhur ulama, Al Hanafiyah, Al Malikiyah, As Syafi'iyah.

Dan seseorang wanita yang wajib berpuasa dua bulan berturut-turut misalnya dia terkena kaffarah jika di tengah-tengah dua bulan tersebut dia haid maka dia tidak boleh berpuasa, dan ini tidak termasuk yang memutuskan puasanya, sebagaimana ijma' dalam hal ini, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Taimiyah.

Kemudian berikutnya diantara pembatal puasa yaitu gila dan pingsan, dan Pembahasan ini sudah kita bahas dalam pembahasan syarat-syarat puasa.

Berikutnya pembatal yaitu murtad dan dia dalam keadaan berpuasa maka batal puasanya, sebagaimana yang telah kita bahas dalam syaraty puasa, dan ini ijma' para ulama sebagaimana yang di nukil oleh Ibnu Qudamah dan Imam Nawawi.

Berikutnya diantara pembatal puasa yaitu dia berniat untuk berbuka, seseorang yang berniat disiang hari bulan ramadhan untuk memutuskan puasanya maka batal puasanya dan wajib baginya mengqadha' puasanya tersebut dan menahan diri di sisa harinya.

وصلى الله على نبينا محمد وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post