Syarat-Syarat Puasa 6-7 (Suci Dari Haid dan Nifas & Niat Puasa) (Materi #16)

Syarat-Syarat Puasa 6-7 (Suci Dari Haid dan Nifas & Niat) (Materi #16)

Syarat-Syarat Puasa 6-7 (Suci Dari Haid dan Nifas & Niat Puasa) (Materi #16)
Ustadz Sirajul Yani, M.H.I



بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاه والسلام على رسول الله وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين وبعد اخوتي في الله عزني الله واياكم

BelajarSyariahOnline - Saudara-saudaraku rahimani wa rahimakumullah kita lanjutkan kembali pembahasan masih berkaitan dengan syarat-syarat puasa: yaitu suci dari haid dan nifas ini di antara syarat wajib puasa bagi seorang wanita dan ini sebagaimana ijma' para ulama sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hazan An Nawawi Syaukani berkata Al-Imam An nawawi:

هذا الحُكمُ متَّفقٌ عليه، أجمع المسلمونَ على أنَّ الحائِضَ والنُّفَساءَ لا تجب عليهما الصَّلاةُ ولا الصَّومُ في الحال

“Hukum masalah ini telah disepakati oleh para ulama dan kamu muslimin telah ijma bahwasanya wanita haid atau nifas tidak wajib bagi mereka solat dan juga puasa”, Maka tidak sah dan tidak di terima puasa nya dan wajib baginya mengqadha puasanya sebagai mana yg di ijma' dalam hal ini berkata Ibnu Abdul Barr:

وهذا إجماعٌ؛ أنَّ الحائِضَ لا تصومُ في أيَّامِ حَيضَتِها، وتقضي الصَّومَ... لا خلافَ في شيءٍ من ذلك، والحمدُ لله

"Dan dalam hal ini telah ijma' ulama bahwasanya wanita haid tidak boleh berpuasa di hari hari dia haid dan wajib baginya menggantikan puasanya dan tidak ada perselisihan para ulama dalam hal ini walhamdulillah"

Dan bagaimana jika seorang wanita mengkonsumsi obat penunda haid? Dengan tujuan agar dia bisa berpuasa Ramadhan misalnya dengan penuh maka jawabannya boleh jika tidak ada kemudhorotan padanya dan ini sebagaimana pendapat madzhab al Hambali, dan yg dipilih oleh Syaikh Binbaz rahimahullah. Berkata beliau Syaikh binbaz rahimahullah:

لا حرَج أن تأخذ المرأة حبوبَ منع الحملِ؛ تمنع الدَّورة الشهريَّة أيَّام رمضان؛ حتَّى تصومَ مع الناس

"Tidak mengapa seorang wanita haid mengkonsumsi obat-obat penunda haid yang bisa menghalangi atau menunda datangnya darah haid di hari hari bulan Ramadhan sehingga ia berpuasa bersama manusia"

Kemudian Syarat terakhir Berniat, Berniat ketika ingin berpuasa ini diantara Syarat sah puasa seorang muslim yaitu ia harus berniat ketika ingin berpuasa Ramadhan atau puasa sunnah, maka tidak sah puasa seseorang tanpa niat dan ini sebagaimana kesepakatan ulama madzhab yang 4 dan dinukil ijma' oleh Ibnu Qudamah beliau mengatakan:

وجملَتُه أنَّه لا يصِحُّ صَومٌ إلا بنيَّةٍ؛ إجماعًا- فرضًا كان أو تطوُّعًا

"Dan kesimpulannya bahwasanya tidak sah puasa seseorang tanpa niat ini ijma' para ulama baik itu puasa wajib atau puasa sunnah.

Dalilnya sebagaimana Hadis umar radhiallahu anhu bahwasanya:

إنَّما الأعمالُ بالنيَّاتِ، وإنَّما لكُلِّ امرئٍ ما نوى

“Sesungguhnya amal soleh tergantung dengan niatnya dan seseorang akan diganjarkan sesuai apa yg ia niatkan”,

Dan ini dikarenakan ibadah puasa adalah ibadah murni maka dibutuhkan niat padanya sebagaimana ibadah solat dan lain sebagainya yang membutuhkan niat dan juga karena makna puasa dalam bahasa dan syara' sama yaitu: menahan atau al Imsak maka untuk membedakan makna bahasa dan syara' yaitu menahan dalam hal apa makna bahasa : luas maknanya yaitu menahan sesuatu apapun itu baik itu berbicara melakukan sesuatu dan lain sebagainya.

Adapun menurut secara syara' : menahan dari makan dan minum dan dari segala yang membatalkan puasa jadi lebih khusus menahan dalam hal-hal khusus maka dengan niat bisa membedakan antara puasa dari sisi bahasa dan dari sisi syara'.

Adapun waktu berniat, para ulama membagi menjadi 2 macam:
1. Waktu berniat puasa fardhu atau wajib dan dalam puasa sunnah karena terdapat perbedaan antara keduanya

Yang pertama Waktu berniat dalam puasa fardhu atau puasa wajib seperti puasa dibulan Ramadhan dalam puasa wajib atau puasa di bulan Ramadhan Wajib baginya berniat dimalam hari sebelum terbitnya Fajar sebagai mana pendapat jumhur ulama, almalikiyyah, asy syafiiyah dan al hanabilah dan sebagian ulama salaf.

Dalilnya sebagaimana Hadis umar radhiallahu anhu yg telah di sebutkan tadi :

إنَّما الأعمالُ بالنيَّاتِ, وإنَّما لكُلِّ امرئٍ ما نوى

"Sesungguhnya amal perbuatan tergantung dengan niat dan setiap seseorang akan di ganjarkan apa yg ia niatkan"

Karena berpuasa Termasuk amal saleh dan amal soleh membutuhkan niat dimalam hari sebelum terbit fajar dan juga sebagaimana atsar para dari hafsoh radhiallahu anhu beliau berkata :

لا صِيامَ لِمَن لم يُجمِعْ قبلَ الفجرِ

“Tidak ada puasa bagi orang yang tidak berniat sebelum terbit fajar " Akan tetapi para ulama berselisih mengenai hukum memperbarui niat di setiap hari nya pada bulan Ramadhan menjadi 2 pendapat:

Pendapat yang pertama harus memparbaharui niat setiap malam di bulan Ramadhan ini sebagaimana pendapat jumhur ulama Al-Hanifiyyah Asyaafiiyah Alhanabilah, Dalilnya sebagaimana keumumam hadis umar bin Khattab tadi maka wajib menetapkan atau memperbaharui niat setiap hari nya disetiap malam bulan Ramadhan karena ibadah puasa ibadah yang tersendiri setiap harinya dan juga dalil atsar dari hafsoh radhiallahu anhu yg sudah di sebutkan tadi yaitu:

لا صِيامَ لِمَن لم يُجمِعْ قبلَ الفجرِ

"Tidak ada puasa atau tidak sah puasa seseorang yang tidak berniat sebelum fajar "

Pendapat kedua: Tidak diharuskan berniat puasa setiap hari bulan Ramadhan saja dan jika di tengah² bulan Ramadhan terputus puasanya dikarenakan uzur syar'i seperti sakit dan lainnya maka dia harus memperbaharui niatnya kembali ketika hendak berpuasa, ini madzhab almalikiyah, sebagian Al-Hanifiyyah dan dipilih oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah.

Dan ini dikarenakan ibadah puasa ramadhan berturut-turut setiap harinya maka seperti satu ibadah yg saling berkaitan dan tidak boleh dipisahkan maka cukup berniat sekali saja akan tetapi wallahu alam pendapat yang paling kuat yaitu wajib berniat setiap malam dibulan Ramadhan karena perkara niat itu adalah keinginan atau maksud dari hati maka ketika seseorang bersahur misalnya maka dia telah menetakkan niat dalam hati nya bahwasanya dia ingin berpuasa.

Kemudian waktu berniat dalam puasa sunnah tidak di syarat kan atau tidak diharuskan berniat dimalam hari ini sebagaimana pendapat jumhur ulama alhanafiyah, Syafi'iyah, Alhanaabilah, dalilnya sebagaimana keumuman hadis Aisyah radhiallahu anha beliau berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ

"Pada suatu hari Nabi shallallahu Alaihi wasalam bertanya apakah kamu mempunyai makanan? Kami menjawab tidak kalo gitu saya akan berpuasa" (HR Muslim)

Dan juga dari atsar para sahabat radhiallahu anhum sebagaimana yg dikatakan oleh ummu darda Beliau mengatakan:

كان أبو الدَّرداءِ يقول: عندكم طعامٌ؟ فإن قُلْنا: لا، قال: فإنِّي صائمٌ يومي هذا

"Abu darda pernah bertanya apakah kamu memiliki makanan? Jika kami menjawab tidak maka aku akan puasa pada hari ini"

dan juga dilakukan oleh tolhah abu Hurairah ibnu Abbas dan Hudzaifah radhiallahu anhum Maka boleh berniat di siang hari bagi yang berpuasa sunnah baik itu sebelum zuhur atau setelahnya, jika dia belum melakukan apa-apa yang membatalkan puasa setelah fajar sodiq dan ini sebagaimana pendapat alhanaabilah As-Syafi'iyah dan sebagian ulama salaf dan yg dipilih oleh ibnu Taimiyah Ibnu Utsaimin rahimahumullah.

Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah:
والأظهرُ صِحَّتُه- أي الصَّوم بنيَّةِ التطوُّعِ بعد الزَّوالِ- كما نقل عن الصحابة

“Dan pendapat yang lebih kuat yaitu sahnya puasa nya yaitu puasa sunnah yg diniatkan setelah zuhur sebagaimana yang di Nukil oleh para sahabat”, dalam kitab mejmuk alfatawa.

Dalilnya keumuman Hadis Aisyah radhiallahu anha dan pahala puasa sunnah didapatkan sejak dia berniat jika ia berniat setelah zuhur maka pahalanya dari setelah zuhur dan ini sebagaimana pendapat alhanaabilah Ibnu Taimiyah Syaikh binbaz dan Syaikh Utsaimin. Syaikh binbaz berkata:

يجوز له أن يصومَ مِن أثناءِ النَّهارِ، إذا كان لم يتعاطَ شيئًا مِن المفَطِّراتِ بعد طلوعِ الفَجرِ، ويُكتَبُ له أجرُ الصَّائِم مِن حينِ نِيَّتِه

"boleh baginya untuk berpuasa di pertengahan hari jika ia belum melakukan apa apa yang membatalkan puasa setelah terbit fajar sodiq, dan dituliskan baginya pahala orang yg berpuasa sejak dia berniat”.

Dalilnya sebagaimana keumuman Hadis umar bin Khattab radhiallahu anhu "Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap amal soleh akan diganjarkan sesuai apa yg ia niatkan"

Dan ini dikarenakan diawal hari dia belum berniat dan seseorang yang akan di berikan ganjaran sesuai apa yang ia niatkan karena bagaimana ia akan di berikan ganjaran pahala puasa sedangkan ia diawal hari nya belum berniat.

Dan dalam niat harus sungguh-sungguh atau berazam tidak boleh ragu ragu, Misalnya seseorang ragu ragu di dalam puasa wajib puasa ramadhan atau kah besok puasa atau tidak dan keraguannya itu terus sampai esok hari kemudian ia berpuasa maka puasanya tidak sah dan wajib baginya mengqadha puasa tersebut dan ini sebagaimana pendapat jumhur ulama almalikiyah Asyaafiiyah dan Alhanaabilah dan ini dikarenakan dia tidak menjalankan syaratnya puasa yaitu berniat dan niat maknanya yaitu menentap atau mengokohkan hati untuk melakukan sesuatu perbuatan dan lawan nya adalah keraguan.

Semoga bermanfaat

وصلى الله على نبينا محمد وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post