Syarat-Syarat Puasa (Muslim) 1 (Materi #12)

Syarat-Syarat Puasa (Muslim) 1 (Materi #12)

Syarat-Syarat Puasa (Muslim) 1 (Materi #12)
Ustadz Sirajul Yani, M.H.I


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاه والسلام على رسول الله وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين وبعد، إخوتي في الله عزني الله وإياكم

Saudara-saudaraku rahimani warahimakumullah.
Kita lanjutkan kembali kajian Fiqih Puasa Ramadhan. Dan Sekarang masuk pada pembahasan syarat-syarat puasa. Syarat-syarat ada dua macam syarat wajib dan dan syarat sah, jika terpenuhi pada diri seseorang maka wajib baginya untuk berpuasa, dan syarat sah jika ter dapat pada dirinya maka sah puasanya.

Syarat Puasa yang Pertama: Islam Yaitu Islamnya, baik itu Islamnya orang kafir kafir asli atau Islamnya kafir disebabkan murtadnya, dan ini termasuk syarat wajib dan syarat sah Puasa, maka tidak wajib dan tidak sah puasa seseorang yang masih kafir sampai dia masuk Islam Dan apakah wajib dia yang mengqadha Puasa yang telah lalu ? Jawabannya tidak Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Allah berfirman:
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ

“Katakanlah kepada orang kafir itu jika mereka berhenti Dari kekafirannya Niscaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala Akan mengampuni mereka Atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan, Yang telah lalu “ (Surat Al Anfal ayat 38) Dan juga Hadits Amar bin Ash Radiallahu anhu Beliau pernah berkata :
فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الْإِسْلَامَ فِي قَلْبِي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ ابْسُطْ يَمِينَكَ فَلْأُبَايِعْكَ فَبَسَطَ يَمِينَهُ قَالَ فَقَبَضْتُ يَدِي قَالَ مَا لَكَ يَا عَمْرُو قَالَ قُلْتُ أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ قَالَ تَشْتَرِطُ بِمَاذَا قُلْتُ أَنْ يُغْفَرَ لِي قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ

“Ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan Islam di dalam Hatiku Maka aku mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Dan aku katakan: Bentangkan tangan kananmu!, Maka aku akan membaiatmu Lalu Beliau membentangkan tangan kanannya Dan Amr bin Ash berkata lalu aku memegang tanganku {Artinya tidak jadi membaiat Rasulullah } Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berkata Ada apa dengan mu wahai Amr? Kemudian aku menjawab : Aku ingin memberikan persyaratan! Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berTanya Kamu mau minta Syarat apa Maka Amar menjawab Dengan Syarat aku diampuni, maka Rasulullah Bersabda: Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam telah menghapuskan Dosa yang terdahulu “Hadits Riwayat Muslim. Banyak hadis yang menjelaskan hal ini, Dan ini menunjukkan bahwasanya Tidak diperintahkan bagi seseorang Muallaf Atau yang baru masuk Islam Untuk mengqadha puasa Ramadan yang telah lalu Semasa kafirnya Ini termasuk ijma para ulama, Sebagaimana yang telah disebutkan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah Dia mengatakan :

لا يَقضي الكافِرُ إذا أسلم، ما تَرك حالَ الكُفرِ باتِّفاق العُلَماء

”Orang kafir tidak wajib mengqadha Puasa yang telah lalu, Jika dia masuk Islam Yang meninggalkannya dalam keadaan kufur Sebagaimana kesepakatan para ulama”. Juga Jika dia Masuk Islam di pertengahan Romadhon maka Tidak wajib baginya mengqadha hari-hari sebelumnya Ini kesepakatan ulama mazhab Dan ini dinukilkan oleh Imam Malik Dan jumhur para ulama Mereka mengatakan:
ليس عليه قضاءُ ما مضى

“Tidak Ada Kewajiban Qadha Puasa bulan Romadhon Yang telah lalu”, dan juga disebutkan oleh Imam almardhawi :

لو أسلم الكافِرُ الأصليُّ في أثناءِ الشَّهرِ لم يلزَمْه قضاءُ ما سبق منه، بلا خلافٍ عند الأئمَّةِ الأربعةِ

“Jika seorang Kafir itu{ kafir asli} Masuk Islam di pertengahan bulan Romadhon Maka tidak ada kewajiban atasnya untuk mengqadha puasa hari-hari yang telah lalu, Tidak ada perselisihan Diantara Para ulama mazhab yang 4” Disebutkan dalam kitab Al inshof jilid 3 Hal 282. Akan tetapi Bagaimana jika dia masuk Islam Diperkenan hari atau di siang hari Misalnya di bulan Romadhon Maka wajib baginya berpuasa Atau menahan diri pada Sisa waktu yang ada Ini sebagaimana pendapat mazhab Al Hanafi Al Hambali Hanabilah Sebagian pendapat Al malikiyah Dan sebagian pendapat Syafi'iyyah Dan ini yang dipilih oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah, berkata Ibnu utsaimin:
يلزَمُه أن يُمسِكَ بقيَّةَ اليومِ الذي أسلَمَ فيه؛ لأنَّه صار الآن مِن أهل الوجوبِ فلَزِمَه

“Wajib baginya untuk Menahan diri di sisa hari Yang padanya dia masuk Islam Karena sekarang dia menjadi Diantara orang-orang yang diwajibkan, Maka wajib baginya untuk berpuasa “. Dan ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa yang menyaksikan bulan Romadhon maka wajiban untuk berpuasa “
Dan tidak wajib baginya untuk Mengqadha puasa hari tersebut sebagaimana pendapat mazhab Hanafi, Syafi'i Dan sebagian hanbali Ini yang dipilih oleh Ibnu munzir Dan Ibnu Taimiyah dan juga Ibnu utsaimin rahimahullah taa’a. Begitu juga seorang yang kafir Maka tidak wajib baginya Mengqadha puasa di Hari-hari yang dia murtad padanya, dan ini pendapat jumhur para ulama, Berkata almardhawi :
وإن كان مرتدًّا فالصحيحُ مِنَ المذهَبِ أنَّه يقضي ما تركَه قبل رِدَّتِه ولا يقضي ما فاتَه زَمَن رِدَّتِه

“Dan jika dia murtad dan Pendapat yang shahih, dari pendapat madzhab, Wajib baginya untuk mengqadha, Hari-hari yang ditinggalkan tidak berpuasa padanya, sebelum dia murtad, dan dia tidak wajib mengqodho hari-hari yang dia murtad padanya” Dalam kitab insaf jilid1 halaman 391. Ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ

“Katakanlah orang yang kafir itu jika Mereka berhenti dari kekafirannya niscaya Allah shubhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu “ Dalam ayat di atas Itu mencakup baik itu kafir asli maupun kafir murtad (kafir yang disebabkan murtad) dan juga dalam Hadits Amar bin ash Radiallahu anhu sebagaimana yang telah saya sebutkan tadi dan juga sebagaimana Praktek para sahabat, yang mana Mereka tidak memerintahkan orang-orang yang masuk Islam setelah murtad pada zaman Abu Bakar untuk mengqadha puasa pada hari-hari yang mereka kufur padanya, dan para sahabat lebih paham tentang syariat Islam Setelah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kalau mereka dipaksa untuk mengqadha puasanya maka ditakutkan mereka lari dari Islam dan kembali lagi pada kekafiran.

Dan bagaimana hutang puasa sebelum dia murtad jika dia masuk Islam kembali apakah wajib mengqadha nya atau tidak? maka jawabannya jika seseorang masuk Islam setelah murtad dan dia memiliki hutang puasa sebelum murtad Nya maka wajib baginya untuk mengqadha puasanya utang-utangnya tersebut dan ini pendapat jumhur ulama. Karena dia meninggalkan puasa pada waktu itu dalam keadaan muslim dan Seorang yang murtad dan ia sedang berpuasa maka puasanya batal dan wajib baginya mengqadha puasa nya hari itu, Jika dia kembali kepada Islam dan ini Dan ini ijmak para ulama dikatakan oleh imam Ibnu Qudamah :
لا نعلَمُ بين أهلِ العِلمِ خلافًا في أنَّ مَنِ ارتَدَّ عَنِ الإسلامِ في أثناءِ الصَّومِ، أنَّه يَفسُدُ صَومُه، وعليه قضاءُ ذلك اليوم، إذا عاد إلى الإسلامِ، سواءٌ أسلَمَ في أثناءِ اليومِ، أو بعدَ انقضائِه

“Kami tidak mengetahui diantara para ulama perbedaan bahwasanya Siapa2 yang murtad Dari Islam ditengah hari dia berpuasa, bahwasanya puasanya rusak atau batal Maka wajib baginya untuk mengqadha hari itu, jika dia balik ke dalam islam maka dia mengqhado pada hari itu, baik itu dia masuk Islam dipertengahan hari, atau setelah selesai dari hari tersebut. Semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post