Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Wajib) 01 (Ushul Fiqih #7 )

<
Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Wajib) 01

Ushul Fiqih #7 
Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Wajib) 01 
Ustadz Sirajul Yani, M.H.I 

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد الله رب العالمين و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و اصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
Kita lanjutkan kembali pembahasan al-Ahkam asy-Syar'iyah. Kita sudah jelaskan bahwasanya al-Ahkam asy-Syar'iyah (hukum-hukum syariat) dibagi menjadi 2. Yang pertama al-Ahkam at-Taklifiyah dan yang kedua al-Ahkam al-Wadh'iyah. 

Yang pertama al-Ahkam at-Taklifiyah ada 5 dan dibatasi menjadi 5 karena seruan Allah Subhanahu wa ta'ala atau seruan syariat bisa jenisnya permintaan atau pilihan. 

Dan permintaan bisa permintaan yang mengandung permintaan untuk mengerjakan suatu perbuatan atau permintaan untuk meninggalkan suatu perbuatan. 

Dan permintaan untuk mengerjakan suatu perbuatan ada yang sifatnya Jaaziman yaitu yang kuat, yang harus dan ada yang tidak harus atau tidak kuat. Dan permintaan untuk mengerjakan suatu perbuatan yang sifatnya harus atau kuat ini dinamakan Al wajib atau wajib dan yang tidak kuat yang tidak harus namanya al-Mandub atau sunnah. Permintaan untuk meninggalkan suatu perbuatan sama ada juga yang sifatnya harus/kuat dan ada yang sifatnya tidak harus atau tidak kuat yang harus ini dinamakan al-Muharram atau haram. Yang tidak harus atau tidak kuat ini dinamakan al-Makruh. 

Adapun seruan Allah Subhanahu wa ta'ala atau seruan syariat yang sifatnya atau yang jenisnya pilihan tidak ada permintaan untuk mengerjakan atau meninggalkan maka ini dinamakan al-Mubah atau mubah kita jelaskan satu persatu. 

Yang pertama adalah al-Wujub. Al-Wujub menurut bahasa adalah as-Sukut yaitu jatuh/ harus terkena. Menurut istilah al-Wajib adalah 
هو ما أمر الشارع بفعله على سبيل الحتم والإلزام، بحيث يثاب فاعله امتثالا، ويستحق تاركه العقاب
" Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syariat (oleh Allah subhanahu wa ta'ala) untuk mengerjakan suatu perbuatan dengan jenis perintah yang harus dan kuat, yang mana jika dia mengerjakan perintah itu maka akan diganjar bagi siapa yang mengerjakannya dan berhak bagi yang meninggalkan perbuatan itu sanksi dari Allah subhanahu wa ta'ala." 

Adapun dalil yang menunjukkan disyaratkannya ganjaran pahala bagi siapa yang merealisasikan atau yang melakukan perintah Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala: 
(وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ)
" Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-nya dan menjalankan agama yang lurus supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat dan demikian itulah agama yang lurus." 

Dan juga sebagaimana hadis Nabi shalallahu alaihi wasallam: 
إنما الأعمال بالنيات، و إنما لكل امرئ ما نوى
" Semua perbuatan tergantung dengan niatnya dan balasan bagi tiap-tiap orang yang melakukan perbuatan tersebut tergantung apa yang di niatkan". (HR Bukhari) 

Oleh karena itu al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud dari hadis di atas beliau mengatakan 
تقدر هذا الحديث إن الأعمال تحسب بنية و لا تحسب إذا كانت بلا نيّة و فيه دليل على أنّ الطهرة هي الوضوء و الغسل و التيمم لا تصح إلا بنيّة و كذلك الصلاة والزكاة و الصوم والحج ...
" Maksud dari hadis yang sudah kita jelaskan bahwasanya amalan-amalan diganjar/diberikan pahala sesuai dengan niatnya dan tidak akan diberikan ganjaran jika tidak ada niat padanya dan didalamnya terdapat dalil bahwasannya thaharah/bersuci seperti wudhu mandi tayamum semua itu tidak akan sah dan benar kecuali dengan niat. Begitu juga salat, zakat, puasa, haji dan i'tikaf dan juga ibadah-ibadah lainnya". 

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya siapa-siapa yang meninggalkan yang wajib maka dia berhak mendapatkan sanksi dari Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala 
(وَمَن یَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَیَتَعَدَّ حُدُودَهُۥ یُدۡخِلۡهُ نَارًا خَـٰلِدࣰا فِیهَا وَلَهُۥ عَذَابࣱ مُّهِینࣱ)
" Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa taala dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuannya niscaya Allah Subhanahu wa ta'ala akan memasukkannya ke dalam api neraka jahanam sedang ia kekal di dalamnya dan baginya siksa yang menghinakan". 

Kemudian dalam hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda : 
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، إِلاَّ مَنْ أَبَى ‏"‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ ‏"‏ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى ‏"‏‏.
‏ Setiap umatku ia pasti akan masuk surga kecuali siapa saja yang enggan para sahabat bertanya wahai Rasulullah siapa yang enggan : siapa siapa yg taat kepada ku maka dia akan masuk surga dan siapa siapa yg bermaksiat kepada ku maka dia telah enggan". (HR.Bukhori). 
Kita cukupkan sampai di sini 
وصلى الله على نبينا محمد وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Soal Evauasi: Apa itu Al Wajib? 

NB:Dilarang mengubah audio dan isi materi dan memindahkannya tanpa mencantumkan sumber.

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post