Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Haram/Al Muharram) 03 (Ushul Fiqih #9)

Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Haram/Al Muharram) 03

Program Belajar Syariah
Ushul Fiqih #9
Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Haram/Al Muharram) 03
Ustadz Sirajul Yani, M.H.I

بسم الله الرحمن الرحيم الحمدلله رب العالمين و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و اصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
Ikhwati fillah a'azzaniyallahu wa iyyakum, Kita lanjutkan kembali masih dalam pembahasan al-Ahkam at-Taklifiyah .Jenis hukum yang ketiga yaitu al-Haram atau al-Muharram. Al-Muharram menurut bahasa artinya al-Mamnu' (yang dilarang), sedangkan menurut istilah: 
ما نهى الشارعُ عن فعله على سبيل الحتم والإلزام, بحيث يثاب تاركه امتثالًا، ويستحق فاعلُه العقاب
" Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syariat untuk melakukannya yang sifat larangannya itu harus dan kuat yang mana akan diberi ganjaran bagi siapa ia meninggalkan sesuatu yang haram karena dia mengamalkan Apa yang diketahui dari syariat Islam dari hukum-hukum syar'i dan yang melakukan haram tersebut ia berhak mendapatkan iqab dari Allah subhanahu wa ta'ala." 

Seperti dosa Syirik, mendurhakai orang tua, minum khamar, membunuh orang lain tanpa hak dan lain sebagainya dari contoh-contoh perbuatan yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa taala dan rasulNya. Hukum haram ini memiliki perbedaan dengan al-Wajib yaitu yang mana al-Wajib atau al-Wujub adalah sesuatu apa apa yang diperintahkan oleh pembuat syariat oleh Allah subhanahu wa taala dan rasulNya. Sedangkan al-Muharam atau al-Haram adalah apa-apa yang dilarang oleh pembuat syariat dan juga berbeda dengan Mandub. Karna Mandub juga, apa apa yang diperintahkan dan juga nanti kita akan belajar tentang al-Mubah, juga apa-apa yang diperintahkan tetapi yang sifatnya pilihan. 

Kemudian haram ini sifatnya harus dan kuat maka berbeda dengan Makruh. Makruh tidak harus dan tidak kuat larangannya. Kemudian satu sisi al-Haram memiliki kesamaan dengan al-Wujub dari sisi sifatnya masing-masing yang mana al-Wujub sifat yang diperintahkan itu harus dan kuat kalau haram sifat yang dilarang oleh pembuat syariat itu harus dan kuat pula 

Kemudian Haram, akan diberikan ganjaran bagi siapa yang meninggalkan yang haram ini akan diberikan ganjaran oleh Allah subhanahu wa ta'ala yang mana ia meninggalkannya karena niat dan paham Bukan dia meninggalkan yang haram tersebut karena kebiasaan atau karena dia tidak mampu atau karena ikut-ikutan, tidak. Akan tetapi dia meninggalkan yang haram tersebut karena niat lillahi ta'ala karena ingin merealisasikan apa yang Allah dan RasulNya perintahkan. Contohnya seseorang ingin meminum khamr, kemudian ia mengingat hukum khamr tersebut bahwasanya Allah mengharamkan khamar tersebut kemudian dia meninggalkan khamr tersebut karena benar-benar dengan niat dan dia faham hukumnya, maka dia akan diberikan ganjaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

Berbeda dengan seseorang yang meninggalkan yang haram karena tidak sempat melakukannya atau terlalaikan darinya. Seperti seseorang yang super sibuk dengan urusan-urusan dunia dengan bisnis-bisnisnya sampai ia tidak memiliki waktu untuk meminum khamr. Orang seperti ini apakah dia diberikan ganjaran karena dia meninggalkan khamr?tidak. Dia meninggalkan khamr karena tersibukkan dengan sesuatu yang lain bukan karena niat bukan karena dia memiliki ilmu dia paham, tidak. Begitu juga seseorang yang meninggalkan sesuatu yang haram karena tidak mampu melakukannya maka ketidak mampuannya untuk meninggalkan yang haram tersebut tidak diberikan ganjaran karena dia tidak melakukan yang haram tersebut karena tidak mampu. 

Dan apakah orang tersebut mendapatkan iqab Allah / mendapatkan sanksi dari Allah subhanahu wa ta'ala. Jawabannya Iya. Apakah hukumannya atau sanksinya sama dengan orang yang terjatuh dalam keharaman. Jawabannya Iya. Sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda pada seseorang yang fakir, dia tidak memiliki harta tapi dia melihat seseorang yang memiliki harta yang mana orang tersebut menginfakkan hartanya dijalan yang Allah tidak ridhoi kemudian orang fakir ini berkata : 
لو ان لى مال فلان، لعملت فيه مثل عمل فلان, فهو بديته فهما فى الوزر سواء
" Seandainya aku memiliki harta sebagaimana orang tersebut memiliki harta maka aku akan melakukan suatu amalan seperti amalannya dia. maka di sini katanya di dalam niatnya sama maka dosa atau Sanksi yang dia akan dapatkan adalah sama pula." 

Dan kadang dia meninggalkan yang orang tersebut karena tidak mampu Tetapi setelah sudah berusaha melakukan sebab-sebab untuk mendekati yang haram tersebut akan tetapi dia belum ditakdirkan untuk bisa melakukan yang haram tersebut. Apakah dia mendapatkan sanksi dari Allah dan ditulis baginya dosa? jawabannya Insya Allah pada pertemuan yang akan datang. 

و صلّى الله على نبينا محمد و اخر دعوانا و الحمد لله رب العالمين
Soal Evauasi: bagaimana jika seseorang yang meninggalkan yg haram seperti perzinahan karena tidak ada kesempatan, apakah dia mendapatkan ganjaran pahala?

NB:Dilarang mengubah audio dan isi materi dan memindahkannya tanpa mencantumkan sumber.

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post