Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Mustahab) 02 (Ushul Fiqih #8)

Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Mustahab) 02

Ushul Fiqih #8
Al Ahkam At Taklifiyyah (Al Mustahab) 02
Ustadz Sirajul Yani, M.H.I

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله وصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يمدين وبعد

Kita lanjutkan kembali masih dalam pembahasan الأحكام التكلفية / الأحكام الطلبية Hukum hukum yg berkaitan dengan pembebanan syariat pada kaum muslimin atau hukum-hukum yang sifatnya permintaan 

Macam yang kedua di antara hukum-hukum taklifiyah atau At-thalabiyyah adalah الإستحباب atau sering kita kenal dengan Sunnah banyak penamaan atau istilah diantaranya adalah مندوب ، نفل، مستحب dan lain sebagainya 

الإستحباب
menurut bahasa : menyukai sesuatu jika dia menyukai sesuatu maka dia akan mengutamakannya memperioritaskan nya. 

Adapun menurut istilah : apa apa yang diperintahkan oleh pembuat syariat untuk melakukannya sifatnya tidak harus atau tidak kuat yang mana akan diberikan ganjaran pahala bagi Siapa yang melakukan merealisasikan perintah tersebut dan tidak akan diberikan iqob atau sanksi yang meninggalkan perintah perintah tersebut. 

Pengertian istihbab mirip dengan Al wajib atau al-Wujub sebagaimana yang telah kita sebutkan yang mana al-wujud adalah apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syariat sama dengan Al istihbab apa apa yang diperintahkan oleh pembuat syariat juga akan tetapi perbedaannya kalo al wajib sesuatu yang wajib itu jenis atau sifat perintah nya harus dan kuat 

Sedangkan istihbab mustahab atau Sunnah ini sifatnya tidak kuat dan tidak harus dan juga ada perbedaan perbedaan pada jika pada hukum al-Wujub atau hukum wajib bagi siapa yg meninggalkan permintaan tersebut atau yang tidak mengerjakan tidak melakukan apa yang diperintahkan maka dia akan di iqob, sedangkan dalam mustahab tidak di iqob siapa yang meninggalkan nya, dan disini ketika seseorang melakukan perkara yang mustahab atau Sunnah seperti solat Sunnah Rowatib, puasa Sunnah dan yang lainnya akan diberikan ganjaran jika dilakukan perbuatan tersebut amalan tersebut dengan niat mengharapkan ganjaran dari Allah Subhanallahu WA Ta'ala, oleh karena itu bagi siapa yang melakukan ibadah ibadah ini tanpa niat maka tidak akan diberikan ganjaran sebagai mana seseorang jika dia mandi hari Jum'at jika dia niatkan mandi hari jumat karena mandi sebelum pergi salat Jumat adalah sunnah maka dia akan mendapatkan pahala Akan tetapi jika dia mandi sebelum pergi salat Jumat hanya untuk membersihkan badan saja dia tidak akan mendapatkan ganjaran pahala 

Kemudian begitu juga dia meninggalkan perkara yang sunnah dia tidak akan diberikan sanksi atau hukuman akan tetapi dia telah meninggalkan sesuatu perkara yang sangat besar perkara yang sangat mulia yang mana dia akan merugi dan tercela karena dia meninggalkannya sebagaimana ditanya al-imam Ahmad rohimahullah bagaimana seseorang yang dia meninggalkan Witir di malam hari karena sengaja tidak mau salat Witir di malam hari maka kata Imam Ahmad Dia seorang laki-laki yang buruk 

Kita cukup sampai di sini semoga bermanfaat 
وصلى الله على نبينا محمد وآخر دعوانا عن الحمدلله رب العالمين
Soal Evauasi: Apa itu Mustahab? apa kesamaan dan perbedaannya dengan Al Wajib?

NB:Dilarang mengubah audio dan isi materi dan memindahkannya tanpa mencantumkan sumber.

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post