Bekas-bekas Najis yang di Maafkan (Fiqih Ibadah #12)

Cara membersihkan sesuatu yang terkena najis

Program Belajar Syariah ke 1
Fiqih Ibadah #12
Bekas-bekas Najis yang di Maafkan
Ustadz Sirajul Yani, M.H.I


الحمدلله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و اصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas bekas-bekas najis yang dimaafkan. Ada sesuatu yang dimaafkan dari bekas-bekas najis yaitu jika masih tersisa pada sesuatu tersebut dari warna, bau yang tidak mungkin atau tidak bisa dihilangkan atau dibersihkan, maka dimaafkan. Ini sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha Beliau berkata : 
ما كان لإحدانا إلا ثوب واحد ، تحيض فيه ، فإذ أصابه شيء من دم قالت بريقها ،فقصعته بظفرها
رواه بخارى 
Dari Aisyah radhiallahu anha beliau berkata, tidaklah ada seseorang dari kami yang memiliki baju, (satu baju) itu juga yang dipake saat mengalami haid ketika baju tersebut terkena darah haid ia basahi dengan air ludahnya lalu membersihkannya dengan kuku nya. HR Bukhari. 

Hadis ini menunjukkan bahwasanya tidak disyariatkan hilangnya warna atau bau pada sesuatu jika susah atau tidak bisa dihilangkan bekas tersebut. 

Begitu juga yang dimaafkan yaitu : sedikit dari bekas sesuatu yang terkena pada sesuatu ketika sesuatu yg najis tersebut susah untuk dihilangkan atau susah untuk dijaga agar tidak terkena, maka sedikit yang najis tersebut tidak mengapa dimaafkan 

Seperti seseorang melakukan istijmar (bersuci dengan batu) masih ada bekas najis atau bekas air kencing yang ada pada kemaluan seseorang. 

Adapun jika ditanya takaran atau tolak ukurnya, sedikit yang najis yang dimaafkan berapa?.. 
Ukuran sedikit dari yang najis tersebut yang dimaafkan adalah diketahui dengan Al'uruf yaitu: kebiasaan atau apa yang dipahami orang setempat, Jika orang setempat memahami sedikit itu dengn ukuran tertentu, maka itulah yang dinamakan sedikit. 

Sebagaimana perkataan ibnu Utsaimin Rahimahullah: 
المعتبر معتبره أوسط الناس
Yang menjadi patokan: apa apa yang dipahami atau yang menjadi pijakan kebanyakan orang setempat, maka apa apa yang menjadi pijakan orang-orang setempat itu bahwasanya sesuatu itu banyak, maka akan menjadi banyak. 

Dan apa yang dipahami atau yg menjadi pijakan orang-orang setempat itu sedikit, maka sesuatu itu menjadi sedikit. 

Karena syari'at tidak memberikan takaran atau ukuran tertentu dari sisi bilangan nya atau ukurannya. 

Kita cukupakan sampai disini 

وصلا الله على نبينا محمد وآخر دعوانا عن الحمدلله رب العالمين
Soal Evauasi: Kapan Najis itu di maafkan?

NB:Dilarang mengubah audio dan isi materi dan memindahkannya tanpa mencantumkan sumber.

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post