11 Jawaban, Untuk Apa Belajar Agama?

11 Jawaban, Untuk Apa Belajar Agama?

11 Jawaban, Untuk Apa Belajar Agama?

1. Agar bisa beribadah kepada Allah di atas ilmu, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf: 108). 
Begitulah yang Allah perintahkan, agar beribadah dan berdakwah di atas ilmu, bukan di atas kejahilan dan hawa nafsu. 

2. Agar mudah meraih surganya, karena belajar agama adalah suatu ibadah yang mulia, yang bisa menghantarkan ke surgaNya, sebagaimana hadits dari abu Hurairah radhiallahu anhu Beliau berkata Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam pernah bersabda: 
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا الى الجنه
“Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah subhanahu Wa ta'ala akan memudahkan jalannya menuju surga” (HR Muslim). 
Oleh karena itu, yang bisa menghantarkan seseorang ke surga bukan hanya ibadah sholat, zakat, puasa dan lainnya, akan tetapi menuntut ilmu juga, bisa menghantarkan seseorang ke surga Allah shubhanahu wata’ala. 
Dan juga yang menunjukkan bahwa ilmu lebih utama dari ibadah, sebagaimana hadis dari abdullahi bin sihhir: 
فضل العلم خير من فضل العباده وخير دينكم الورع
“Keutamaan ilmu, lebih baik dari keutamaan beribadah dan sebaik-baik agama kalian adalah Al Wara'” (Jamiul ilm, Ibnu Abdil Barr, 102). 

3. Agar Allah subhanahu Wa ta'ala memperindah atau memberikan cahaya pada diri kita, ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: 
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ
“Allah akan memperindah seseorang yang mendengar hadits dari kami, dia menghafalnya sehingga dia menyampaikannya kepada yang lainnya, bisa jadi orang yang mengusung fiqih menyampaikan kepada orang yang lebih faqih darinya, dan bisa jadi orang yang mengusung fiqih tidak termasuk orang yang faqih” (HR Tirmidzi). 

4. Agar Allah subhanahu Wa ta'ala mengangkat derajat kita disisiNya, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al Mujadalah: 11) 
Orang yang berilmu disini, tentu yang berilmu tentang agamanya, siapa diantara kita yang tidak mau diangkat derajatnya? 

5. Agar sampai pada maqam atau kedudukan seseorang yang selalu takut kepada Allah subhanahu Wa ta'ala, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama “ (QS Fathir: 28). 
Itulah hakikat dan konsekwensi dari berilmu, seseorang yang makin berilmu, maka semakin besar rasa takutnya kepada Allah shubhanahu wata’ala. 

6. Agar mendapatkan pahala bermajelis ilmu, sebagaimana hadits dari abu Hurairah radhiallahu anhu, Beliau berkata Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam pernah bersabda: 
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Dan tidaklah suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, dan mempelajarinya dengan sesama mereka kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dilimpahkan kepada mereka rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah 'Azza wa Jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya. Dan barangsiapa diperlambat oleh amalnya maka tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya." (HR Muslim). 

7. Agar menjadi manusia termulia di sisi Allah subhanahu Wa ta'ala, ini sebagaimana hadits abu Hurairah radhiallahu anhu Beliau berkata: pernah dikatakan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam siapa manusia yang paling mulia maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: 
أَكْرَمُهُمْ أَتْقَاهُمْ قَالُوا يَا نَبِيَّ اللَّهِ لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ قَالَ فَأَكْرَمُ النَّاسِ يُوسُفُ نَبِيُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ قَالَ فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِي قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَخِيَارُكُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا
"Siapa yang paling taqwa di antara mereka?". Mereka berkata, "Wahai Nabi Allah, bukan itu yang kami tanyakan". Beliau berkata, "Kalau begitu, Yusuf Nabi Allah, putra dari Nabi Allah putra Khalilullah (kekasih Allah, Ibrahim 'alaihissalam) ". Mereka berkata lagi, "Bukan itu yang kami tanyakan". Beliau berkata, "Apakah yang kalian maksudkan tentang kalangan bangsa Arab? Mereka berkata, "YA, benar". Beliau bersabda, "Orang yang terbaik di antara kalian pada masa Jahiliyyah adalah yang terbaik pula di masa Islam jika mereka memahami Islam" (HR Bukhari dan Muslim). 

8. Agar bisa menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain, karena apa yang kita pahami dari hukum syariat, kita harus sampaikan, inilah yang dimaksud dari hadist Nabi shallallahu’alaihi wasallam: 
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
"Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Israil dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka".(HR Bukhari). 
Dan kita tidak dituntut untuk menyampaikan hukum syariat yang kita belum pahami, takutnya kita terjatuh dalam kesalahan, lebih-lebih berdusta atas nama Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. 

9. Agar bisa mengarahkan orang lain kepada kebaikan, sehingga kita mendapatkan pahala semisal dengannya, dalam sebuah hadist, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: 
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
"Barangsiapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR Muslim). 

10.  Allah, para malaikat dan semua yang ada di langit dan bumi meminta ampunan untuk kita yang belajar dan mengajarkan ilmu, sebagaimana hadist dari Abi Umamah Al Bahily, berkata: 
ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
"Dua orang disebutkan di sisi Rasulullah ﷺ, salah seorang adalah ahli ibadah dan yang lain seorang yang berilmu, kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, " kemudian beliau melanjutkan sabdanya, "Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR Tirmidzi). 
Tentu yang mengajarkan kebaikan, setelah dia mengilmui kebaikan tersebut, lalu dia mengamalkannya. 

11. Agar menjadi penyebab orang lain mendapatkan hidayah, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda pada hari khaibar: 
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
" Sungguh seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaraan kamu, hal itu lebih baik buatmu daripada unta merah (harta yang paling baik) ". (HR Bukhari). 

Disusun Oleh: Sirajul Yani, M.H.I

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post