3 Sikap Seorang Muslim Terhadap Penghinaan Kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Sikap Seorang Muslim Terhadap Penghinaan Kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Sikap Seorang Muslim Terhadap Penghinaan Kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد
Hendaklah kau muslimin mengetahui bahwasanya, segala sesuatu yang terjadi dari penghinaan terhadap agama Allah, terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, adalah bentuk ujian, yang seorang muslim harus menghadapinya dengan sabar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR Muslim). 

Dan apa-apa yang terjadi pada saat ini dari penghinaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan perkara yang baru, akan tetapi sudah terjadi sebelum-sebelumnya dari zaman dulu, kaum musyrikin Quraisy mencela Nabi dan menghina beliau, dengan mengatakan beliau tukang sihir, tukang dukun, orang gila dan seterusnya dari lafadz-lafadz celaan, akan tetapi itu semua tidak memudharatkan Rasulullah wasallam dan tidak mengurangi kemulian, harkat dan martabat beliau sedikitpun, dan ini juga yang menambah keyakinan, kepatuhan dan kecintaan kita kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Celaan Mereka Terhadap Rasulullah, Tidak Akan Mengurangi Kemuliaan, Harkat dan Martabat Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Dan diantara Sikap-sikap kaum muslimin dalam menghadapi musibah ini adalah: 

1. Menahan diri dan tidak tergesa-gesa untuk melakukan apapun yang menimbulkan kemudaratan, dan hendaklah menyibukkan dirinya pada hal-hal yang bermanfaat, yang membantu agama Allah. 

2. Wajibnya bertaubat dan kembali kepada Allah dan RasulNya serta menjauhi segala dosa dan maksiat Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy Syura: 30). Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda: 
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian berjual beli secara cara 'inah, mengikuti ekor sapi, ridha dengan bercocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian” (HR Abu Daud). 

3. Hendaklah kembali kepada para ulama dan mengamalkan nasehat-nasehat mereka sebagaimana firman Allah subhanahu Wa ta'ala: 
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)” (QS: An Nisa: 83). 
Dan tidak berkata-kata atau melakukan sesuatu apapun kecuali atas dasar arahan dan nasehat para ulama seperti melakukan pemboikotan terhadap produk-produk suatu negara yang mana dengan pemboikotan tersebut terealisasikan padanya kemaslahatan, dan telah keluar fatwa para ulama, dan anjuran untuk membaikot seluruh produk-produk negara prancis, tentunya yang melakukan pemboikotan adalah mereka yang bisa memberikan pengaruh atau efek jerah terhadap prancis.



Menyatukan barisan, karena padanya kekuatan kaum muslimin, dan juga menjauhi perselisihan dan perpecahan karena padanya kelemahan dan kehinaan, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS Al Imran: 103), Allah juga berfirman: 
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ
“dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (QS Al Anfaal: 46). 

Disusun Oleh: Sirajul Yani

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post