Cara Menasehati Pemimpin Dalam Islam (1)



Cara Menasehati Pemimpin Dalam Islam (1)

Menasehati pemimpin yaitu dengan cara berduaan, tersembunyi, tidak terang-terangan, tidak didepan banyak orang, ini sebagaimana hadist dari 'Iyadl bin ghanim berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: 
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ
"Barangsiapa yang hendak menasihati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan kewajibannya" (HR Ahmad). 

Dan juga sebagaimana atsar dari Sa 'id bin Jumhan ia berkata, saya menemui Abdullah bin Abu Aufa, ketika itu ia tidak bisa melihat. Kemudian saya mengucapkan salam atasnya, ia bertanya, "Siapakah Anda?" saya menjawab, "Aku adalah Sa 'id bin Jumhan." Ia bertanya lagi, "Apakah yang dilakukan oleh ayahmu?" saya menjawab, "Ia telah dibunuh oleh kelompok Al Azariqah." Ia pun berkata, "Semoga Allah melaknati jamaah Al Azariqah. Semoga Allah melaknati jamaah Al Azariqah. Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami, bahwa mereka itu adalah anjing-anjingnya neraka." Saya bertanya, "Apakah hanya jamaah Al Azariqah saja, ataukah semua kaum Khawarij?" ia menjawab, "Ya, benar. Semua kaum Khawarij." Saya berkata, "Sesungguhnya para penguasa tengah menzalimi rakyat, dan berbuat tidak adil kepada mereka." Akhirnya Abdullah bin Abu Aufa menggandeng tanganku dan menggenggamnya dengan sangat erat, kemudian berkata: 
وَيْحَكَ يَا ابْنَ جُمْهَانَ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ وَإِلَّا فَدَعْهُ فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ
"Duhai celaka kamu wahai Ibnu Jumhan, hendaklah kamu selalu bersama As Sawadil A 'zham (hidup berjamaah dengan kaum muslimin), hendaklah kamu selalu bersama As Sawadil A 'zham, Jika sang penguasa mendengar sesuatu darimu, maka datangilah rumahnya dan beritahulah dia apa-apa yang kamu ketahui hingga ia menerimanya, dan jika tidak, maka tinggalkanlah, karena kamu tidak lebih tahu daripada dia." (HR Ahmad). 

Fenomena cara menasehati pemimpin: 

1. Menasehati pemimpin secara tersembunyi atau berduaan. 
Inilah metode yang benar dalam menasehati pemimpin, dengan mendatangi mereka, berduaan, tentu mereka yang memiliki otoritas dan tanggungjawab penuh dalam masalah tersebut. 
Ini sebagaimana hadist dari iyadh, yang telah kita sebutkan di atas dan juga atsar atsar dari para ulama terdahulu. 

2. Menasehati pemimpin secara terang-terangan sedangkan dia mampu menasehatinya secara tersembunyi. 
ini termasuk bentuk menasehati pemimpin yang tidak dibenarkan, karena: 
- Menyelisihi hadits iyadh, yang memerintahkan kita untuk menasehati pemimpin dengan tersembunyi
- Menyelisihi atsar ulama salaf dan metode mereka dalam menasehati pemimpin.
- Rasulullah pernah bersabda:
من أهان سلطان الله في الأرض أهانه الله
"Barangsiapa yang menghina pemimpin, di dunia, maka Allah akan menghinakan dia" (HR Tirmidzi). 

3. Menasehati pemimpin secara tersembunyi kemudian dia menyebarkannya. 
Cara ini juga termasuk cara yang tidak dibenarkan, karena: 
- Menyelisi hadist iyadh bin ghanam yg telah kita sebutkan di atas, yang mana maksud dari hadist tersebut adalah, agar tidak ada yang tau. 
- Menyelisi petunjuk dan metode ulama terdahulu. 
- Terdapat padanya riya', dan ini menunjukkan tanda lemahnya iman. 
- Menimbulkan fitnah dan perpecahan. 
- Terdapat unsur penghinaan terhadap pemimpin, sebagai hadist yang telah kita sebutkan di atas. 

4. Mengingkari pemimpin atau menyebutkan kesalahan dan keburukan mereka di belakang, pada majelis-majelus, pertemuan pertemuan, mimbar mimbar dan semisalnya. 
Dan ini juga termasuk cara yang tidak dibenarkan dalam syariat Islam, karena; 
- Terdapat padanya ghibah dan kemungkinan adanya kedustaan terhadap pemimpin, Allah shubhanallahu wata'ala berfirman: 
وَلاََ يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
"dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain" (QS Al Hujurat: 12). 
Dan dalam hadist disebutkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya; 
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
"Tahukah kamu, apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab; 'Allah dan rasul-Nya lebih tahu.' Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, 'Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.' Seseorang bertanya; 'Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ' Rasulullah ﷺ berkata, 'Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.'" (HR Muslim). 

Tentu juga cara ini Menyelisi hadist iyadh dan metode para ulama terdahulu dalam menasehati pemimpin, begitu juga terdapat padanya penghinaan terhadap pemimpin. 
Begitu juga cara ini, menyebabkan pertumpahan darah, kerusakan, Syaikh bin baz pernah mengatakan: 
ليس من منهج السلف التشهير بعيوب الولاة وذكر ذلك على المنابر لأن ذلك يفضي إلى الانقلابات وعدم السمع والطاعة في المعروف ويفضي إلى الخروج الذي يضر ولا ينفع
"Bukan dari metode beragama ulama salaf, menyebarkan aib-aib pemimpin, di mimbar mimbar, karena mengakibatkan penggulingan, dan tidak mau dengar dan taat kepadanya, dan juga pemberontakan yang merusak dan tidak ada manfaat" (Al ma'lum 22, Al Muamalah, 43). 

Sebagian orang menganggap bolehnya mencela dan berkata-kata pada pemimpinnya dengan dalil, hadist Abu Sa 'id Al Khudri ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: 
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ
"Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang dhalim, atau pemimpin yang dhalim." (HR Abu Daud). 
Tentu ini istidlal yang sangat jauh, hadist di atas harus dikomperasikan dengan hadist iyadh, yaitu dengan tersembunyi atau berduaan dan tidak dengan terang-terangan dihadapan orang orang, atau di publish di medsos. 

Semoga Bermanfaat.

Bersambung...

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post