Dalam Pengasuhan Paman Tercinta Abu Thalib (Siroh Nabawiyyah #13)

Dalam Pengasuhan Paman Tercinta Abu Thalib

Program Belajar Syariah Ke 1
Siroh Nabawiyyah #13
Dalam Pengasuhan Paman Tercinta Abu Thalib
Ustadz Sirajul Yani, M.H.I


بسم الله الرحمن الرحيم الحمدلله وصلاة والسلام على رسول لله وعلى آله وأصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وبعد
Ikhwati fillah Azzaniyallahu waiyyaakum kita lanjutkan kembali pembahasan As-shiroh An-nabawiyah setelah wafatnya beliau abdul Muthalib dan Nabi shallallahu Alaihi Wasallam pada saat itu berumur 8 thn dan abdul Muthalib mewasiatkan kepada anaknya Abu Thalib untuk merawat Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam dan menjaganya karena Abdullah ayah dari Nabi shallallahu Alaihi Wasallam dan juga Abu Thalib saudara kandung dari ayah dan Ibu yang sama, Ibu mereka yaitu istrinya Abdul Muthalib yang bernama Fatimah bintu amr ibn aidz. 

Maka paman beliau shallallahu Alaihi Wasallam yang akan menjaga dan merawat Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam bahkan Abu Thalib mencintai nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lebih dari anak-anak nya. 

Diriwayatkan bahwasanya ketika Abdul Muthalib wafat Abu Thalib merasa sedih sambil memeluk Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam. 

Dan seterusnya Abu Thalib bersama Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam akan tetapi abu Thalib dari sisi harta kurang beruntung akan tetapi Allah subhanallah wa Ta'ala memberkahi hartanya yang sedikit sehingga makanan satu orang bisa mengenyangkan seluruh anggota keluarga diantara keberkahan Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam berada ditengah mereka. 

Dan Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan beliau menerima apa adanya dan sabar merasa cukup dengan Rezeki yang telah Allah taqdirkan kepada beliau. 

Kemudian tatkala Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam berumur 12thn 2bln 10hari Abu Thalib hendak pergi berdagang ke negri syam bersama kafilah kaum quraish dan Abu Thalib sangat berat untuk meninggalkan Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam di Mekkah. 

Begitu juga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sangat sedih ditinggal oleh paman beliau karena kesedihan yang rasakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi tatkala meninggalkan beliau karena siapa lagi nantinya yg akan mengurus dan merawat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam 

Jikalau Abu Thalib tidak kembali dari Safar beliau ke Negri Syam maka Abu Thalib mengajak Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam untuk ikut bersama rombongan ke Syam kota bashrah ketika rombongan mereka singgah di dekat Kota bashrah di perbatasan Syam orang pendeta besar orang nasrani yaitu bahiroh atau Buhairoh si rahib menghampiri mereka dan langsung mencari cari seseorang di tengah kerumunan, hingga meraih tangan Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata dia adalah pemimpin seluruh alam anak ini akan diutus oleh Allah subhanallah wa Ta'ala sebagai rahmat bagi seluruh alam, maka rombongan tersebut bertanya dari mana kau tau hal ini bahiroh menjawab sejak kalian tiba di Al'aqobah, aqobah ini tempat atau jalan yang agak meninggi. 

Kata bahiroh sejak kalian berada di aqobah tidak ada satupun batu atau pohon melainkan tunduk dan sujud kepada Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam dan semua benda itu tidaklah sujud melainkan kepada seorang Nabi, aku bisa mengetahui hal itu melalui tanda kenabian yang berada dibawah tulang rawan bahunya, yang menyerupai kulit tebal yang meninggi di punggung Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam. 

Kemudian kata bahiroh kami juga mengetahui tanda itu dan dalam kitab kami kitab Injil, kemudian bahiroh menjamu mereka dengan baik dan meminta abu Thalib membawa Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam untuk kembali pulang dan jangan meneruskan perjalanannya ke Syam bersama Nabi kita shallallahu Alaihi Wasallam, karena mengkhawatirkan orang-orang Romawi dan Yahudi merenggut keselamatan Nabi kita Muhammad shallallahu Alaihi Wasallam. 

Akhirnya Abu Thalib mengirim beliau pulang ke Mekkah 

وصلى الله على نبينا محمد وآخر دعوانا عن الحمدلله رب العالمين


Soal Evauasi:
Pada Umur berapa Nabi safar ke syam?

NB:Dilarang mengubah audio dan isi materi dan memindahkannya tanpa mencantumkan sumber.

0/Post a Comment/Comments

Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda

Previous Post Next Post